Partai Solidaritas Indonesia (PSI) resmi menggelar Kongres Nasional pertamanya di Kota Solo pada tanggal 19–20 Juli 2025. Acara ini menjadi momen penting dalam perjalanan partai yang dikenal dengan semangat anti-korupsinya itu, sekaligus menjadi panggung konsolidasi pasca-Pemilu 2024.
Bertempat di Gedung Graha Saba Buana, Kongres Nasional ini dihadiri oleh ribuan kader dari seluruh Indonesia. Pengurus daerah, serta perwakilan organisasi sayap partai. Acara berlangsung selama dua hari dan diisi dengan berbagai agenda strategis. Termasuk pemilihan ketua umum dan perumusan arah kebijakan partai lima tahun ke depan.
Konsolidasi Politik Pasca-Pemilu
Dalam sambutannya, Plt Ketua Umum PSI menyampaikan bahwa Kongres Nasional ini menjadi langkah konkret untuk memperkuat struktur internal partai sekaligus memperjelas posisi PSI di kancah politik nasional. Meski belum masuk ke parlemen pusat dalam Pemilu 2024, PSI tetap menunjukkan eksistensinya lewat gerakan sosial, isu antikorupsi, dan dukungan terhadap demokrasi partisipatif.
Kongres ini juga membahas evaluasi pencapaian partai, strategi komunikasi publik yang baru, serta penguatan kaderisasi di tingkat lokal. Sejumlah tokoh nasional turut hadir sebagai pembicara, memberikan pandangan tentang tantangan politik Indonesia ke depan.
Solo Dipilih sebagai Simbol Politik Baru
Pemilihan Kota Solo sebagai lokasi Kongres Nasional bukan tanpa alasan. Kota ini dikenal sebagai simbol politik baru yang bersih dan inklusif. Solo juga merupakan kampung halaman Presiden Joko Widodo, yang selama ini sering dikaitkan dengan arah gerakan politik muda dan progresif—citra yang juga diusung oleh PSI.
Penyelenggaraan di Solo menjadi sinyal bahwa PSI ingin lebih dekat dengan masyarakat akar rumput dan membangun citra sebagai partai yang menyatu dengan denyut kehidupan warga.
Harapan untuk Generasi Muda Politik
Salah satu fokus utama kongres adalah peran generasi muda dalam transformasi politik Indonesia. Dalam berbagai sesi diskusi, dibahas bagaimana PSI bisa menjadi ruang alternatif politik bagi anak muda yang selama ini merasa jauh dari dunia politik formal.
Frasa “politik gembira” yang dulu sempat populer kembali digaungkan dalam kongres ini. Dengan menyasar anak muda, perempuan, dan kelompok marjinal, PSI menegaskan niatnya untuk tetap menjadi partai yang progresif dan terbuka.












