Seorang pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan masyarakat akan bahaya infeksi virus Human Papillomavirus (HPV) sebagai penyebab utama kanker serviks. Dalam sebuah seminar kesehatan masyarakat, dr. Rini Sekartini, M.Kes., dosen dan peneliti bidang onkologi di Fakultas Kedokteran UGM, menjelaskan bahwa HPV merupakan virus yang sangat umum menular lewat hubungan seksual dan bisa menyebabkan perubahan sel abnormal pada leher rahim.
Apa Itu Virus HPV?
HPV adalah kelompok virus yang terdiri dari lebih dari 100 jenis. Sekitar 14 jenis di antaranya dianggap berisiko tinggi karena dapat menyebabkan kanker. Virus ini sering kali tidak menimbulkan gejala pada awal infeksi, sehingga banyak wanita tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi.
“HPV adalah penyebab utama kanker serviks. Sekali terinfeksi, virus ini dapat bertahan selama bertahun-tahun dalam tubuh dan menyebabkan perubahan sel yang berkembang menjadi kanker,” kata dr. Rini.
Bagaimana HPV Menyebabkan Kanker Serviks?
Virus HPV menyerang sel epitel di area serviks (leher rahim) dan dapat menyebabkan perubahan genetik dalam waktu lama. Jika tidak ditangani dengan deteksi dini, seperti pap smear atau tes HPV, sel abnormal tersebut bisa berkembang menjadi kanker.
Menurut dr. Rini, sekitar 99% kasus kanker serviks dikaitkan dengan infeksi HPV, khususnya jenis HPV-16 dan HPV-18. Kedua varian ini sangat agresif dan bertanggung jawab atas sebagian besar kasus di Indonesia.
Pentingnya Vaksinasi dan Skrining Dini
Pemerintah Indonesia telah memasukkan vaksin HPV dalam program imunisasi nasional untuk mencegah infeksi sejak usia dini. Vaksin ini terbukti efektif hingga 90% dalam mencegah kanker serviks jika diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual.
“Vaksin HPV bukan hanya untuk perempuan, laki-laki pun bisa mendapatkan manfaatnya untuk mencegah penularan dan melindungi pasangan mereka,” tambah dr. Rini.
Selain vaksinasi, skrining rutin seperti pap smear setiap 3 tahun sangat disarankan bagi perempuan usia 21-65 tahun. Deteksi dini memungkinkan penanganan sebelum kanker berkembang lebih lanjut.
Kesadaran Masyarakat Masih Rendah
Sayangnya, tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya vaksin HPV dan skrining dini masih rendah. Banyak perempuan mengabaikan tes pap smear karena takut atau merasa tidak memiliki gejala.
“Padahal kanker serviks tidak menimbulkan gejala pada stadium awal. Begitu muncul gejala seperti keputihan berbau, perdarahan, atau nyeri panggul, biasanya sudah masuk stadium lanjut,” ujar dr. Rini.
Penutup
Pakar UGM mengimbau agar edukasi mengenai HPV dan kanker serviks terus digencarkan, terutama di sekolah dan lingkungan keluarga. Pencegahan melalui vaksinasi dan deteksi dini masih menjadi senjata paling efektif untuk melawan kanker serviks yang termasuk dalam lima besar penyebab kematian perempuan di Indonesia.












